Powered by Blogger.

Berhenti menyalahkan diri sendiri

unsplash.com

Seberapa sering kita menyalahkan diri sendiri saat ada masalah yang hadir, Sudah seberapa sering kita dengar "saya cuman ibu-ibu" , "saya cuman ibu rumah tangga" , "saya tidak bisa apa-apa" , "saya bukan siapa-siapa" , "saya... dan saya..." tagline yang mengafirmasi diri untuk menjadi tagline tersebut.

Berhenti menyalahkan waktu, berhenti menyalahkan keadaan. Belajar memahami dan menghadapi menjadi salah satu jalan untuk bisa tetap on track

Beberapa melihat sekeliling dan memahami bahwa untuk bisa mengenal sebuah peran tak semudah kita menyebut nya. perjalanan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya, dengan segala macam cerita suka dan duka.

Temukan sisi terbaik untuk bisa siap menerima segala kekurangan dan kesendirian untuk hadapi segala hal yang tidak pernah diduga. 

Lalu sebegitu mudahnya kah mereka melihat peran seseorang, sebegitu mudahnya kah melihat tanggung jawab sebuah peran, dan sebegitu mudahnya kah menyalahkan bahkan memandang sebelah mata sebuah peran. 

Semua perjalanan melalui sisi kanan dan kiri begitu juga perjalanan sebagai peran yang telah dipilih yang dilalui dengan sisi kanan dan kiri untuk setiap pilihan mereka., setiap perjalanan yang dipilih menentukan akhir dari perjalanan nya kelak., tak banyak yang ingin melewatkan nya, tapi tak sedikit juga yang justru melewatkan nya begitu saja.

Untuk pribadi lain yang belum menemukan sisi terbaik nya untuk bisa menerima setiap permasalahan yang sedang dihadapi., kita hanyalah manusia yang tak sempurna.  Tak ada masalah yang akan dihadapkan dengan jawabannya, kita hanya dibawa untuk sabar melalui nya untuk meraih jawaban yang kita inginkan. 

Kita sendiri yang menentukan kemana akan dibawa setiap cerita di kehidupan kita., terkadang kita tak menyadari bahwa kita telah diberikan petunjuk untuk setiap cerita yang sedang kita jalani. Memang tak semudah itu tapi memberikan diri pada ruang yang tenang membawa jawaban itu hadir kepada kita. 

Walaupun setiap ritme nya bagi saya juga tak semudah itu, tapi dengan membawa sebuah masalah dalam cerita perjalanan diri dengan belajar memaknai menjadikan diri untuk perlahan bisa menerima cerita tersebut dengan baik.

Berhenti menyalahkan diri sendiri.. 

Dari hasil yang tak sesuai dengan kenyataan...

Berhenti menyalahkan diri sendiri..

Dari kegagalan yang ada pada diri...

Jangan biarkan bayang-bayang itu menghantui dan menghancurkan 



Planner apps favorit

Sejak semua dilakukan dirumah, productivity jadi lebih nambah. apalagi ibu-ibu macam saya yang tidak memiliki asisten rumah tangga. Jadi otomatis semua pekerjaan rumah di atasi sendiri. , ditambah dengan kegiatan belajar dirumah dan juga beberapa kerjaan lain nya.

Beberapa hari yang lalu sempet posting di instagram tentang "keseimbangan"


Ku merasa sejak kegiatan sekolah dari rumah yang handle orang tua. keseimbangan aktivitas mulai kewalahan. ,jadi banyak kegiatan yang terlewat jadi tidak dikerjakan, belum lagi ternyata ada beberapa balasan email yang harusnya saya udah balas. ini kan tipe ibu-ibu macam saya yang kalo baca email,udah dibaca aja dulu, balas email nya nanti aja.. sungguh tak patut ditiru..ya buibu. karena itu aplikasi reminder activity ngbantu banget.

Jadi apapun menurutku keseimbangan itu diperlukan banget, kita aja kalau jalan gak seimbang akan kebayang kan seperti apa. Apalagi hal-hal sederhana yang kita lihat sebelah mata, tapi kenyataan nya justru tak semudah yang dibayangkan.

Aplikasi yang saya gunakan untuk reminder kegiatan sehari-hari yaitu awesome note by bridworks, sudah pakai aplikasi ini sejak lama. dan sebegitu suka nya sama aplikasi ini di handphone, karena gak terlalu fancy dan gak terlalu kaku.

Dan dengan tampilan per folder gini nih yang bikin saya merasa gak salah pilih aplikasi planner, sudah coba banyak planner tapi belum merasa ada yang cocok seperti saya menggunakan awesome note  ini. Karena menurut saya aplikasi ini udah cukup mengakomodir apa yang saya butuhkan.

Menurut saya dengan sebegitu banyak nya aplikasi planner yang ada. pasti akan ada yang pro dan kontra., ini hal yang lumrah ya..gak hanya masalah aplikasi aja kok.  tapi balik lagi, aplikasi planner itu harus nyaman untuk penggunanya., yess.. memang beberapa hal sebelum memutuskan pasti akan lihat review dan lain lain nya. , tapi semua kembali ke penggunanya aja kan, apakah kita mudah untuk menggunakannya, apakah membantu kita, apakah ini dibutuhkan saat online saja, dan lain lain.

Segitu ribet nya milih aplikasi..., karena saya sendiri hanya akan menginstall aplikasi yang memang saya butuhkan. jadi di handphone saya tidak akan banyak aplikasi berseliweran. atau hanya akan memenuhi kapasitas handphone saya. memahami dari hal sederhana ini untuk lebih selektif, jadinya kebawa untuk hal-hal lain nya.

Tak harus dengan aplikasi, bahkan mungkin ada juga yang masih senang dengan planner printable untuk digunakan sebagai reminder, atau masih membuat sendiri planner dengan tulisan tangan. Apa pun yang digunakan untuk membuat kegiatan harian dengan lebih teratur akan bawa mood dan pikiran juga lebih tenang dan gak ajlut-ajutan aja..




beradaptasi dengan situasi yang baru ditengah pandemi

Photo by Steve Johnson from Pexels


Teringat untuk di waktu yang akan datang, tentang cerita di hari ini, cerita di minggu lalu dan cerita di bulan lalu. tak ada satupun yang bisa menebak cerita saat ini. kalaupun ada yang terlihat mungkin hanya bayangan yang tak tampak nyata. cerita saat ini memberikan makna sendiri bagi tiap manusia., sungguh mungkin saat ini kata sedih, marah, bahagia, empati, syukur, terasa di satu mangkuk yang sama.

hal-hal yang dulu terasa ingin sekali bisa dikerjakan, telah diberikan oleh Sang pemilik untuk bisa saya kerjakan., begitu juga hal yang dulu tak ingin untuk dikerjakan . telah diberikan juga oleh Nya. melihat dari sisi yang berbeda dari runutan peristiwa yang saya alami., membawa diri untuk lebih melihat hal positif dibalik satu mangkuk cerita yang sudah tercampur-campur tadi.

Membawa pikiran untuk berputar terus mencari dan menemukan rangkaian yang tepat untuk bersiap melangkah. Membawa dendam ini menjadi dendam positif untuk bisa menyutradarai pikiran dan tak terlena dengan jumlah angka yang tiap hari dilihat di televisi.

akan banyak cerita kelak tentang situasi seperti ini, dan saya memilih untuk merangkai cerita tentang situasi ini menjadi kenangan bagi anak-anak dan bagi saya pribadi., bisa di bayangkan banyak orang melakukan hal-hal yang dulu nya tidak pernah dikerjakan atau bahkan tidak terpikir akan dilakukan.
dan menemukan cerita tersendiri juga, seperti saya. 

Memulai hal baru seperti berjalan dengan tertatih-tatih, tetapi pikiran kita juga lah yang mendobrak untuk melangkah dan berjalan dengan pasti. 













mencoba untuk tidak overload

Photo by Jess Bailey from Pexels


Sudah berapa lama #stayathome selama masa pandemi ini? kalo aku sih sebenernya gak terlalu berpengaruh signifikan karena sebelum ada pandemi ini , seminggu untuk keluar rumah hanya 2-3x. 

Walau punya pengalaman selalu berada dirumah, tapi kali ini beda karena ada pekerjaan tambahan yang dulunya tidak ada.  saat ini semua orang tua juga menjadi guru dirumah sejak #studyathome, termasuk aku. dan juga tambahan menjadi guru les karena harus memanfaatkan waktu luang di jam yang harusnya belajar, tapi abang masih punya waktu longgar, *sungguh ya ibuknya gak mau rugi waktu*, kali ini harus manfaatin waktu dengan tepat. belajar dari pengalaman saat abang postpone bersekolah selama satu tahun, aku saat itu mengalami overload dan endingnya badan, pikiran ikut lelah. efeknya kemana-mana. belajar dari pengalaman itu aku jadi banyak belajar untuk memahami diri sendiri untuk bisa mengatur jadwal nya tubuh dan pikiran supaya bisa selaras.

Banyak hal pasti berubah sejak pandemi ini hadir, tapi banyak juga kebahagiaan yang hadir. anak-anak dan keluarga jadi lebih bisa memahami satu sama lain, Ayah dan ibu hadir diantara anak-anak dengan lebih mengenal mereka, kita pun diajak untuk mengenal pasangan kita dan memahami diri sendiri. dibalik sulitnya kondisi saat ini, mencoba untuk berpikir di sisi lain , membawa diri dan pikiran untuk bisa menerima situasi dengan hati dan perasaan yang tenang., mengajak diri untuk bisa mengatur waktu dan situasi yang ada.  

Moment ini menjadi memori bagi kita semua, setiap peristiwa yang hadir saat ini akan jadi cerita tersendiri disuatu saat nanti. begitu juga dengan anak-anak, cerita yang hadir saat bersama dengan orang tua mereka selama dua bulan berada dirumah akan menjadi kenangan tersendiri bagi mereka. 

Karena itu aku memanfaatkan dengan baik untuk bisa hadir bersama mereka, ya entah untuk sekedar ngobrol, nonton tv, mengerjakan tugas sekolah, atau ngbahas tentang games yang happening, walau ya kadang suka rada kudet aja, dan bingung lagi diskusi tentang games tapi ibuknya gak paham banget, cuman karena antusias untuk ikut hadir pikiran dan badan saat mereka ngobrol, anak-anak jadi santai aja walau ibuk nya gak paham. dari situ aku juga belajar gak hanya saat kita ngobrol dengan teman, pasangan aja yang harus "hadir", dengan anak-anak pun walau bahasannya seputar hal yang kita gak paham tapi hadir untuk mereka, mereka terlihat senang banget.

Setiap hari sebisa mungkin aku menuliskan kegiatan apa aja yang akan aku kerjakan, di buku catatan kecil. walau sekarang sudah canggih dengan banyak nya aplikasi reminder di handphone, tapi menulis kegiatan harian punya feel yang beda , yang penting aku bisa tulis apa aja kegiatan yang akan aku kerjakan di hari ini dan besok, aku gak bikin planner untuk tiga hari kedepan. biasanya hanya berisi satu atau dua hari sudah cukup bagi aku., dan ini membantu aku banget untuk gak overwhelm. dan sebisa mungkin pekerjaan yang sekiranya aku gak bisa handle aku gak paksakan untuk aku kerjakan.

Ditambah saat ini banyak juga kan kelas-kelas online yang bisa kita ikutin, dari yang gratis hingga berbayar., aku juga ikut memanfaatkan moment ini untuk ikut kelas online yang memang sesuai dengan apa yang ingin dituju., karena itu aku mencoba menyeimbangkan kegiatan yang ada.

Memulai hal simple ini menekan tingkat kebosanan kalo buat aku pribadi, pikiran dan perasaan jadi lebih menerima dan aku juga lebih bisa mengatur waktu. 

Hadirnya diri kita secara utuh untuk pekerjaan atau kegiatan yang kita kerjakan itu lebih bermakna dan lebih memuaskan, dibandingkan raga kita yang hadir untuk pekerjaan yang kita kerjakan, tapi jiwa dan pikiran kita terbelah untuk kegiatan yang belum terselesaikan sebelumnya.