mencoba untuk tidak overload

Photo by Jess Bailey from Pexels


Sudah berapa lama #stayathome selama masa pandemi ini? kalo aku sih sebenernya gak terlalu berpengaruh signifikan karena sebelum ada pandemi ini , seminggu untuk keluar rumah hanya 2-3x. 

Walau punya pengalaman selalu berada dirumah, tapi kali ini beda karena ada pekerjaan tambahan yang dulunya tidak ada.  saat ini semua orang tua juga menjadi guru dirumah sejak #studyathome, termasuk aku. dan juga tambahan menjadi guru les karena harus memanfaatkan waktu luang di jam yang harusnya belajar, tapi abang masih punya waktu longgar, *sungguh ya ibuknya gak mau rugi waktu*, kali ini harus manfaatin waktu dengan tepat. belajar dari pengalaman saat abang postpone bersekolah selama satu tahun, aku saat itu mengalami overload dan endingnya badan, pikiran ikut lelah. efeknya kemana-mana. belajar dari pengalaman itu aku jadi banyak belajar untuk memahami diri sendiri untuk bisa mengatur jadwal nya tubuh dan pikiran supaya bisa selaras.

Banyak hal pasti berubah sejak pandemi ini hadir, tapi banyak juga kebahagiaan yang hadir. anak-anak dan keluarga jadi lebih bisa memahami satu sama lain, Ayah dan ibu hadir diantara anak-anak dengan lebih mengenal mereka, kita pun diajak untuk mengenal pasangan kita dan memahami diri sendiri. dibalik sulitnya kondisi saat ini, mencoba untuk berpikir di sisi lain , membawa diri dan pikiran untuk bisa menerima situasi dengan hati dan perasaan yang tenang., mengajak diri untuk bisa mengatur waktu dan situasi yang ada.  

Moment ini menjadi memori bagi kita semua, setiap peristiwa yang hadir saat ini akan jadi cerita tersendiri disuatu saat nanti. begitu juga dengan anak-anak, cerita yang hadir saat bersama dengan orang tua mereka selama dua bulan berada dirumah akan menjadi kenangan tersendiri bagi mereka. 

Karena itu aku memanfaatkan dengan baik untuk bisa hadir bersama mereka, ya entah untuk sekedar ngobrol, nonton tv, mengerjakan tugas sekolah, atau ngbahas tentang games yang happening, walau ya kadang suka rada kudet aja, dan bingung lagi diskusi tentang games tapi ibuknya gak paham banget, cuman karena antusias untuk ikut hadir pikiran dan badan saat mereka ngobrol, anak-anak jadi santai aja walau ibuk nya gak paham. dari situ aku juga belajar gak hanya saat kita ngobrol dengan teman, pasangan aja yang harus "hadir", dengan anak-anak pun walau bahasannya seputar hal yang kita gak paham tapi hadir untuk mereka, mereka terlihat senang banget.

Setiap hari sebisa mungkin aku menuliskan kegiatan apa aja yang akan aku kerjakan, di buku catatan kecil. walau sekarang sudah canggih dengan banyak nya aplikasi reminder di handphone, tapi menulis kegiatan harian punya feel yang beda , yang penting aku bisa tulis apa aja kegiatan yang akan aku kerjakan di hari ini dan besok, aku gak bikin planner untuk tiga hari kedepan. biasanya hanya berisi satu atau dua hari sudah cukup bagi aku., dan ini membantu aku banget untuk gak overwhelm. dan sebisa mungkin pekerjaan yang sekiranya aku gak bisa handle aku gak paksakan untuk aku kerjakan.

Ditambah saat ini banyak juga kan kelas-kelas online yang bisa kita ikutin, dari yang gratis hingga berbayar., aku juga ikut memanfaatkan moment ini untuk ikut kelas online yang memang sesuai dengan apa yang ingin dituju., karena itu aku mencoba menyeimbangkan kegiatan yang ada.

Memulai hal simple ini menekan tingkat kebosanan kalo buat aku pribadi, pikiran dan perasaan jadi lebih menerima dan aku juga lebih bisa mengatur waktu. 

Hadirnya diri kita secara utuh untuk pekerjaan atau kegiatan yang kita kerjakan itu lebih bermakna dan lebih memuaskan, dibandingkan raga kita yang hadir untuk pekerjaan yang kita kerjakan, tapi jiwa dan pikiran kita terbelah untuk kegiatan yang belum terselesaikan sebelumnya.



Post a Comment

From Nessa