mencoba untuk tidak overload

by - April 10, 2020

Photo by Jess Bailey from Pexels


Sudah berapa lama #stayathome selama masa pandemi ini? kalo aku sih sebenernya gak terlalu berpengaruh signifikan karena sebelum ada pandemi ini , seminggu untuk keluar rumah hanya 2-3x. 

Walau punya pengalaman selalu berada dirumah, tapi kali ini beda karena ada pekerjaan tambahan yang dulunya tidak ada.  saat ini semua orang tua juga menjadi guru dirumah sejak #studyathome, termasuk aku. dan juga tambahan menjadi guru les karena harus memanfaatkan waktu luang di jam yang harusnya belajar, tapi abang masih punya waktu longgar, *sungguh ya ibuknya gak mau rugi waktu*, kali ini harus manfaatin waktu dengan tepat. belajar dari pengalaman saat abang postpone bersekolah selama satu tahun, aku saat itu mengalami overload dan endingnya badan, pikiran ikut lelah. efeknya kemana-mana. belajar dari pengalaman itu aku jadi banyak belajar untuk memahami diri sendiri untuk bisa mengatur jadwal nya tubuh dan pikiran supaya bisa selaras.

Banyak hal pasti berubah sejak pandemi ini hadir, tapi banyak juga kebahagiaan yang hadir. anak-anak dan keluarga jadi lebih bisa memahami satu sama lain, Ayah dan ibu hadir diantara anak-anak dengan lebih mengenal mereka, kita pun diajak untuk mengenal pasangan kita dan memahami diri sendiri. dibalik sulitnya kondisi saat ini, mencoba untuk berpikir di sisi lain , membawa diri dan pikiran untuk bisa menerima situasi dengan hati dan perasaan yang tenang., mengajak diri untuk bisa mengatur waktu dan situasi yang ada.  

Moment ini menjadi memori bagi kita semua, setiap peristiwa yang hadir saat ini akan jadi cerita tersendiri disuatu saat nanti. begitu juga dengan anak-anak, cerita yang hadir saat bersama dengan orang tua mereka selama dua bulan berada dirumah akan menjadi kenangan tersendiri bagi mereka. 

Karena itu aku memanfaatkan dengan baik untuk bisa hadir bersama mereka, ya entah untuk sekedar ngobrol, nonton tv, mengerjakan tugas sekolah, atau ngbahas tentang games yang happening, walau ya kadang suka rada kudet aja, dan bingung lagi diskusi tentang games tapi ibuknya gak paham banget, cuman karena antusias untuk ikut hadir pikiran dan badan saat mereka ngobrol, anak-anak jadi santai aja walau ibuk nya gak paham. dari situ aku juga belajar gak hanya saat kita ngobrol dengan teman, pasangan aja yang harus "hadir", dengan anak-anak pun walau bahasannya seputar hal yang kita gak paham tapi hadir untuk mereka, mereka terlihat senang banget.

Setiap hari sebisa mungkin aku menuliskan kegiatan apa aja yang akan aku kerjakan, di buku catatan kecil. walau sekarang sudah canggih dengan banyak nya aplikasi reminder di handphone, tapi menulis kegiatan harian punya feel yang beda , yang penting aku bisa tulis apa aja kegiatan yang akan aku kerjakan di hari ini dan besok, aku gak bikin planner untuk tiga hari kedepan. biasanya hanya berisi satu atau dua hari sudah cukup bagi aku., dan ini membantu aku banget untuk gak overwhelm. dan sebisa mungkin pekerjaan yang sekiranya aku gak bisa handle aku gak paksakan untuk aku kerjakan.

Ditambah saat ini banyak juga kan kelas-kelas online yang bisa kita ikutin, dari yang gratis hingga berbayar., aku juga ikut memanfaatkan moment ini untuk ikut kelas online yang memang sesuai dengan apa yang ingin dituju., karena itu aku mencoba menyeimbangkan kegiatan yang ada.

Memulai hal simple ini menekan tingkat kebosanan kalo buat aku pribadi, pikiran dan perasaan jadi lebih menerima dan aku juga lebih bisa mengatur waktu. 

Hadirnya diri kita secara utuh untuk pekerjaan atau kegiatan yang kita kerjakan itu lebih bermakna dan lebih memuaskan, dibandingkan raga kita yang hadir untuk pekerjaan yang kita kerjakan, tapi jiwa dan pikiran kita terbelah untuk kegiatan yang belum terselesaikan sebelumnya.



You May Also Like

15 comments

  1. Ternyata bener apa yang Tante aku bilang, "satu-satunya yang ga ngerasain bedanya WFH sama enggak tu ya emak-emak. Ndak ada gabut-gabutnya!" tapi pasti makin meledug kerjaannya karena harus ngerangkep jadi Guru/Dosen, plus manajer tugas tugasnyaaa 😂 Tapi kondisi kaya gini emang bikin orangtua yang suka protes protes ke Gurunya gitu nyadar bahwa tugas Guru di sekolah itu susah bangettt. Kadang anak sendiri aja susah ngaturnya apalagi Guru di sekolah yang megang puluhan anak :')

    Semangat terus ya Kakk semoga kehidupan bisa segera kembali normal 😊

    ReplyDelete
  2. Setuju mba. Harus sepenuh hati ya dalam mengerjakan apapun itu. Aku juga sama lebih membiasakan menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang sudah jelas bisa aku kerjakan tiap harinya. Biar ga bosan dan bisa mengatur waktu.

    ReplyDelete
  3. Saya jujur overload banget, apalagi pas awal-awal kemaren.
    Karena saya sendirian mengasuh anak-anak nggak ada yang bantuin sama sekali 24 jam.
    Tepar, emosian dan segalanya sampai di ujung waktu saya sadar, saya tidak boleh kalah dengan keadaan karena anak-anak butuh saya, lama-lama mulai mengerti ritmenya dan mencoba bahagia, tak perlu sempurna :)

    ReplyDelete
  4. sejak era digital ini emang terbantukan ya dengan adanya aplikasi reminder dan notes di smartphone

    ReplyDelete
  5. Selama stay at home aku mencari hobi baru, main-main sama watercolor pensil yang aku punya dari jaman SD, sangking gabutnya, lumayan menyibukkan diri dan pikiran 😊

    ReplyDelete
  6. Walaupun kita selalu di rumah tetap menyenangkan ya kak karena banyak hal yang bisa dilakukan. Aku juga sering mengikuti kelas online. Apalagi kalau ada yang lagi live di ig mengenai tema yang bagus dan aku rasa aku bisa menontonnya maka aku akan ikutin. Benar kak yang hadirnya diri kita secara utuh di suatu pekerjaan itu memang harus biar lebih fokus dalam melakukannya.

    ReplyDelete
  7. Walaupun aku belum punya anak usia sekolah, tapi kok berasa i feel you ya mba. Selama pandemi ini, aq wfh tapi lebih capek dr kalo ke kantor. Mungkin karena pikiran jd butek selin selin harus nyelesaiin kerjaan kantor jg harus rajin ngerjain kerjaan rumah :'(

    ReplyDelete
  8. Sama seperti yg saya rasakan, saya ibu rumah tangga di desa, ke pasar hanya ad dua kali seminggu. Pas pandemi ini kebetulan daerah kami masih zona hijau, jadi semua terasa tidak jauh beda, kecuali anak dan suami tidak ke sekolah...

    ReplyDelete
  9. Nah catatan banget buat aku. aku sering nulis (manfaatin hp sebenarnya bukan nulis wkwk) kegiatan jangka panjang dan harian yang standar. Padahal bagusnya lebih rinci ya perhari apa yang akan dikerjakan. Hmmmm, harus belajar hihi

    ReplyDelete
  10. Setuju mba, apalagi klo menemani anak, harus being present ga nyambi mikirin yg lain

    ReplyDelete
  11. Bener, aku sebelum pandemi juga terbiasa di rumah. Jadi gak ada jauh beda sih sama setelah pandemi .Yang beda lebih concern sama APD aja .

    Plus aki juga ikut kelas online biar gak nganggur" banget di rumah. 😁

    ReplyDelete
  12. Setuju mom. Walau udah muncul ebragam digital note tapi note yang manual tetap punya tempat berbeda di hati hehe

    ReplyDelete
  13. Semenjak stay at home aku jadi lebih terorganisir dong, rajin nulis di buku diary dan rajin bikin planner. Tapi kegiatan aktif yg aku lakukan jadi agak menurun karena gak boleh keluar rumah😭

    ReplyDelete
  14. Setujuuu....ngalamin banget ini banyak2 ambil kelas, ngerjain ini itu, mikirin ini itu yang berujung pada ngerasa overwhelming, akhirnya lelah sendiri. Perlu manajemen diri biar nggak segala sesuatunya nggak terlalu over ya.

    ReplyDelete
  15. Agar tak tsunami informasi ya kak. Aku juga coba mengurangi nih, spaya nggak overload. Reminder juga buatku ini, agar lebih mendekat pada keluarga. Mengurangi sibuk dengan gadget hehe

    ReplyDelete